Orang-orang biasa menuduh “wahabi ” kepada setiap
orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid’ah mereka, sekalipun
kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan Al-Qur’anul Karim
dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan
berdo’a (memohon) hanya kepada Allah semata.
Memang ada sementara orang yang menyebut Ahlus Sunnah (salafi) sebagai aliran
wahabi. Pemberian gelaran ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak suka dan
dengki atas gencarnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah.
Gelaran seperti ini sengaja dihembuskan agar orang-orang ragu mengikuti
kebenaran dan petunjuk yang diajarkan beliau. Gelaran seperti itu juga
digunakan agar orang-orang tetap tenggelam dalam bid’ah yang mereka ada-adakan,
tindakan yang menyelisihi prinsip Ahlus Sunnah.
Dalam hal ini, tidak bisa Ahlus Sunnah dikatakan sebagai Wahabiyah, yaitu
dinisbatkan kepada Syaikh Muhamamad bin Abdul Wahhab Rahimahullah. Hal ini
karena Ahlus Sunnah tidak pernah menyandarkan diri kepada beliau baik ketika
belaiu masih hidup maupun setelah wafatnya. Syaikh Muhamamd bin Adbul Wahhab
sendiri tidak pernah mengajarkan sesuatu yang baru untuk kemudian ajaran
tersebut dinisbatkan kepada dirinya. Bahkan sebaliknya, beliau adalah orang
yang teguh mengikuti jalan para Salafush Shalih, menampakkan, menyebarkan dan
mengajak orang-orang untuk berpegang teguh dengan Sunnah.
Banyak sumbangsih yang diberikan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab
rahimahullahu kepada kaum muslimin yang semestinya disyukuri. Namun ada saja
orang yang hasad kepada beliau atau orang yang dakwahnya berseberangan dengan
dakwah yang beliau tegakkan. Mereka menyimpan kebencian kepada beliau bahkan
menyebarkan ucapan-ucapan jelek dan tuduhan palsu tentang beliau dan dakwahnya.
Sehingga tidak sedikit orang awam yang termakan ucapan mereka. Akibatnya beliau
dibenci dan dicaci oleh mereka, dan dakwah seperti yang beliau ajarkan dijauhi.
Ditempelkanlah gelar Wahabi kepada pengikut dakwah beliau, seakan beliau dan
pengikut dakwah beliau berjalan di atas selain jalan yang haq dan membentuk
madzhab yang kelima dalam Islam. Padahal dakwah beliau adalah dakwah kepada
tauhid yang murni, memperingatkan dari kesyirikan dengan seluruh jenisnya,
seperti bergantung kepada orang-orang mati dan yang lainnya, baik berupa
pepohonan, bebatuan dan semisalnya.
Dalam masalah aqidah, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu berada
di atas madzhab As-Salafus Shalih, dalam fiqih beliau berpegang dengan madzhab
Al-Imam Ahmad rahimahullahu sebagaimana ditunjukkan dalam kitab-kitab karya
beliau, fatwa-fatwa beliau dan kitab-kitab karya pengikut beliau dari kalangan
anak dan cucu-cucunya serta selain mereka.
Dengan demikian Wahabiyyah bukanlah madzhab kelima seperti anggapan orang-orang
bodoh dan orang-orang yang benci. Dia hanyalah dakwah kepada aqidah salafiyyah
dan memperbaharui apa yang telah roboh dari bendera-bendera Islam dan tauhid di
jazirah Arab. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Asy-Syaikh Ibnu Baz,
1/374)
Hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan
berita-berita bohong. Misalnya mereka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima, padahal dia adalah seorang
penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak
mencintai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam serta tidak bershalawat
atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.
Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah- telah
menulis kitab “Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallaahu alaihi wasalam “. Kitab
ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita
dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka
bakal dihisab pada hari Kiamat.
Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran,
niscaya mereka akan menemukan Al-Qur’an, hadits dan ucapan sahabat nabi sebagai
rujukannya.
Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah
seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran
wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih
dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum
dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca,
mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.
Al-Malik Abdul Aziz (pendiri kerajaan arab saudi modern) dikenal sebagai
seorang yang gigih mengikuti jejak Salafush Shalih di dalam mendakwahi manusia
kepada aqidah yang shahihah dan berpegang teguh kepada syari’at Islamiyyah
serta menerapkan hukum-hukum Islam dalam semua segi kehidupan.
Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush
Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan
Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari
Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216]
Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab
kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah
kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan
oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah
kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush
Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara
para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam
pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217]
Chat Box
Meneropong Masa depan
Blogger templates
Cintai Waktumu
Popular posts
-
TANTANGAN DA’WAH KONTEMPORER Kasus Liberalisasi Pendidikan Islam di Pendidikan Tinggi Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Program ...
-
PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME DALAM PERSPEKTIF ISLAM (Kajian terhadap Buku Panduan Integrasi Nilai Multikultur dalam Pendidikan ...
-
Teruntuk engkau yang mencintaiku... Ketika kau masih tak mampu menghalalkanku... Ijinkan aku berbicara tentang cinta padam...
-
Syair 1 Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpaMu.... Tuhanku, bintan...
-
Orang-orang biasa menuduh “wahabi ” kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid’ah mereka, sekalipun kepercayaan-keperca...
Berselancar di samudra ilmu
Pengunjung
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
Diberdayakan oleh Blogger.
Followers
Diposting oleh
Lely Nur Hidayah
Sabtu, 14 Januari 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
